A. Latar Belakang Masalah
Dalam keseluruhan proses belajar mengajar di sekolah, kegiatan belajar merupakan kegiatan yang paling pokok yang harus dikuasai oleh siswa. Ini berarti berhasil tidaknya pencapaian prestasi di kelas bergantung kepada kemampuan siswa dalam belajar yang baik dan benar terutama dalam hal ini belajar Bahasa Inggris. Karena pada kenyataannya masih banyak siswa terutama di kelas V dimana penulis mengadakan observasi masih ada beberapa siswa yang tidak mampu dalam belajar Bahasa Inggris yang seharusnya. Padahal Mata Pelajaran Bahasa Inggris itu bukan hal yang baru bagi mereka karena mereka telah mengenal dasarnya semenjak di Taman Kanak-kanak. Dalam hal ini membantu siswa agar dapat belajar dengan baik bukan tugas yang ringan bagi seorang guru. Dalam mengajarkannya guru berhadapan dengan sekelompok siswa yang beraneka latar belakangnya. Mengapa hal tersebut bisa terjadi ? dan bagaimana solusi yang tepat untuk mengatasi hal yang demikian.
Untuk itulah penulis merasa terpanggil untuk meneliti permasalahan tersebut diatas secara langsung di SDN Gunung Putri 1 Banjar Pandeglang yang merupakan tempat dimana penulis melaksanakan observasi.
B. Perumusan Masalah
Sesuai dengan latar belakang masalah tersebut diatas, kurangnya minat siswa dalam hal belajar bahasa Inggris yang baik dan benar dan seringkali menjadi hal yang mendasar khususnya pada prestasi belajarnya di sekolah
Pada rumusan masalah ini penulis mencoba untuk mengetahui tentang :
1. Bagaimana minat belajar siswa di SDN Gunung Putri 1 Banjar Pandeglang ?
2. Kesulitan apa yang dihadapi guru dalam membantu siswa agar dapat belajar dengan baik dan benar ?
3. Metode apa yang diupayakan guru dalam membantu siswa belajar dengan baik dan benar di SDN Gunung Putri 1 Banjar Pandeglang ?
C. Tujuan Penelitian
Penelitian dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan jawaban atau solusi mengenai pengembangan minat anak dalam Belajar pada tingkat Sekolah Dasar khususnya di kelas V, untuk itu penulis ingin mengetahui secara jelas tentang :
1. Minat belajar siswa di kelas V SDN Gunung Putri 1 Banjar Pandeglang .
2. Kesulitan-kesulitan yang dihadapi guru dalam menumbuhkan minat belajar di kelas V SDN Gunung Putri 1 Banjar Pandeglang
3. Metode-metode yang diupayakan guru dalam menumbuhkan minat belajar pada kelas V SDN Gunung Putri 1 Banjar Pandeglang .
D. Langkah-langkah Penelitian
Untuk memperoleh data-data yang berhubungan dengan bahan penulisan karya tulis ini, penulis mengadakan penelitian kepustakaan dan penelitian dilapangan.
1. Penelitian Kepustakaan (Library Research)
Guna melengkapi data dalam pembahasan karya tulis ini, penulis mengadakan penelitian kepustakaan dengan jalan membaca serta menghimpun berbagai pendapat dan ide-ide para ahli yang tertuang dalam buku-buku yang ada kaitannya dalam pembahasan karya tulis ini. Adapun pedoman yang digunakan karya tulis ini penulis berpegang pada buku “Panduan Teknis Penyusunan Laporan Tugas Akhir Program Diploma Dua” yang diterbitkan di Balaraja pada tahun 2006.
2. Penelitian Lapangan
Penelitian lapangan ini, dimaksudkan untuk memperoleh data-data tentang obyek yang diteliti, kemudian dianalisis. Adapun dalam penelitian lapangan ini, penulis menggunakan beberapa teknik pengumpulan data, yaitu :
a. Teknik Pengambilan Sampel
Dalam penelitian lapangan ini, penulis mengambil sampel dari siswa kelas V SDN Gunung Putri 1 Banjar Pandeglang , pengambilan sampelnya dengan cara random sampling. Sedangkan populasinya berjumlah 30 siswa dan dari populasi tesebut diambil sampel sebanyak 30 siswa
b. Teknik Pengumpulan Data
Untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini, penulis menggunakan beberapa teknik pengumpulan data, yaitu antara lain:
b.1. Observasi
Dalam observasi ini, penulis melakukan pengamatan langsung di kelas V SDN Gunung Putri 1 Banjar Pandeglang guna mendapatkan gambaran yang jelas mengenai kondisi obyektif kelas V SDN Gunung Putri 1 Banjar Pandeglang tersebut. Pedoman observasi yang penulis gunakan adalah mengenai tahun berdirinya kelas V SDN Gunung Putri 1 Banjar Pandeglang dan kegiatan sehari-hari siswa saat belajar khususnya dalam belajar.
b.2. Wawancara dan Interview
Teknik wawancara adalah proses memperoleh informasi atau keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab si pewawancara dan narasumber.
Teknik ini digunakan untuk mengumpulkan data bagi siswa yang diselidiki meliputi kesulitan guru mengembangkan minat siswa dalam belajar.
4. Cara Menganalisis Data
Berdasarkan data-data yang diperoleh, penulis menggunakan analisis nonstatistik yaitu dengan deskriptif.
TINJAUAN TEORITIK TENTANG FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KESULITAN BELAJAR BAHASA INGGRIS
A. Pengertian dan Teori Belajar
Dikutip dari buku Psikologi Pendidikan Hilgard dan Bower, dalam buku Theories of Learning (1975) mengemukakan. “Belajar berhubungan dengan perubahan tingkah laku seseorang terhadap situasi tertentu yang disebabkan oleh pengalamannya yang berulang-ulang dalam situasi itu, di mana perubahan tingkah laku itu tidak dapat dijelaskan atas dasar kecenderungan respon pembawaan, kematangan, atau keadaan-keadaan sesaat seseorang (misalnya kelelahan, pengaruh obat, dan sebagainya).”
Dikutip dari buku Psikologi Pendidikan Gagne, dalam buku The Conditions of Learning (1977) menyatakan bahwa: “Belajar terjadi apabila suatu situasi stimulus bersama dengan isi ingatan mempengaruhi siswa sedemikian rupa sehingga perbuatannya (performance-nya) berubah dari waktu sebelum ia mengalami situasi itu ke waktu sesudah ia mengalami situasi tadi.”
Dikutip dari buku Psikologi Pendidikan Morgan, dalam buku Introduction to Psychology (1978) mengemukakan: “Belajar adalah setiap perubahan yang relatif menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atau pengalaman.”
Dikutip dari buku Psikologi Pendidikan Witherington, dalam buku Educational Psychology mengemukakan: “Belajar adalah suatu perubahan di dalam kepribadian yang menyatakan diri sebagai pola baru daripada reaksi yang berupa kecakapan, sikap, kebiasaan, kepandaian, atau suatu pengertian
Untuk lebih memperjelas pengertian kita tentang apakah belajar itu dan bagaimana proses belajar itu terjadi, berikut ini akan dikemukakan beberapa teori belajar. Teori belajar tersebut anatara lain:
a. Teori Conditioning (Teori Kondisi)
Penganut teori ini mengatakan bahwa segala tingkah laku manusia juga tidak lain adalah hasil daripada conditioning. Yakni hasil daripada latihan-latihan atau kebiasaan-kebiasaan mereaksi terhadap syarat-syarat/perangsang-perangsang tertentu yang dialaminya di dalam kehidupannya.
b. Teori Conectionism (Thorndike)
Menurut trial and error (mencoba-coba dan gagal), setiap organisme jika dihadapkan dengan situasi baru akan melakukan tindakan-tindakan yang sifatnya coba-coba secara membabi buta. Jika dalam usaha mencoba-coba itu secara kebetulan ada perbuatan yang dianggap memenuhi tuntutan situasi, maka perbuata yang kebetulan cocok itu kemudian dipegangnya. Sedangkan menurut law of effect yaitu bahwa segala sesuatu tingkah laku yang berakibatkan suatu keadaan yang memuaskan (cocok dengan tuntutan situasi) akan diingat dan dipelajari dengan sebaik-baiknya.
c. Teori Belajar menurut Psikologi Gestalt
Teori ini seringkali pula disebut field theory atau insight full learning. Menurut para ahli psikologi Gestalt, manusia itu bukanlah hanya sekedar makhluk reaksi yang hanya berbuat atau mereaksi jika ada perangsang yang mempengaruhinya.
Manusia itu adalah individu yang merupakan kebulatan jasmani-rohani. Sebagai individu manusia bereaksi atau lebih tepat berinteraksi dengan dunia luar dengan kepribadiannya dan dengan cara yang unik pula. Tidak ada dua orang yang mempunyai pengalaman yang benar-benar sama atau identik terhadap obyek atau realita yang sama.
B. Minat Belajar
Minat belajar pada siswa memang beragam, dan yang menjadi masalah adalah beberapa siswa yang kurang berminat dalam hal belajar dan ini merupakan gejala awal anak malas belajar.
Setiap siswa pada prinsipnya tentu berhak memperoleh peluang untuk mencapai kinerja akademik yang memuaskan, namun arti dari kenyataan sehari-hari tampak jelas bahwa siswa itu memiliki perbedaan dalam hal kemampuan intelektual, kemampuan fisik, latar belakang keluarga, kebiasaan dan pendekatan belajar yang terkadang sangat menyolok antara siswa dengan siswa yang lainnya.
Guru dalam kaitan ini seyogyanya berusaha membangkitkan kembali minat siswa dalam belajar.
C. Strategi Guru dalam Menumbuhkan Minat Belajar
Setelah diadakan penelitian maka didapatkan bahwa Sebagian besar anak kurang berminat dalam belajar adalah karena faktor dalam diri anak yaitu malas, dan tidak bersemangat dalam hal belajar, karena itu guru dituntut melakukan perbaikan mutu pendidikan belajar, sarana pendidikan, menciptakan program-program yang dapat mengentaskan buta huruf dan buta pengetahuan dasar. Dan memang “didalam belajar tuntas dikatakan berhasil apabila subjek didik telah menguasai materi 75% atau lebih dan dikatakan kurang berhasil apabila hasil yang dicapai kurang dari 75% dari seluruh materi pelajaran, dan pemberian materi pelajaran yaitu pengenalan huruf-huruf haruslah bertahap agar kemajuan belajar sesuai dengan kemampuan individu dan dapat dilakasanakan atas umpan balik dari hasil belajar tiap unit pelajaran. Dari hasil tes diagnostik subyek didik melakukan kegiatan perbaikan sampai dapat menyelesaikan perbaikan secara sempurna (Sunarto, S.Pd. 1995: 4) dan kurangnya dukungan baik moril maupun materiil dan kesabaran dari pihak keluarga yaitu orang tua dalam mengajarkan belajar pada anak. Selain itu kurangnya rangsangan akan belajar sehingga anak kurang bersemangat dalam Belajar.
Strategi guru dalam menyikapi hal tersebut di atas adalah sebagai berikut :
1. Membujuk dan memberikan pengertian serta dukungan sebagai dorongan agar anak lebih bersemangat dalam belajar, menumbuhkan minat belajar belajar ternyata tak semudah menyuruh siswa belajar walau dibekali dengan panduan dan sistem belajar yang efektif, kondisi itu sangat dipengaruhi dan ditentukan oleh berbagai situasi yang serba kompleks (Sudjono Masdi Samijo, 1995 : 15).
Situasi pribadi siswa pada dasarnya mengacu kepada kondisi objektif peserta didik yang bersifat rohaniah maupun jasmaniah, situasi dan status ekonomi yang rendah umumnya sangat memepengaruhi aspek kejiwaan dan emosional siswa. Perasaan minder dan pendiam umumnya menghinggapi mayoritas siswa yang demikian, denagn demikian secara menyeluruh kondisi objektif ini harus diperhatikan agar suatu proses belajar dan proses pendidikan berlangsung dengan baik, selanjutnya upaya-upaya nyata yang paling sederhana untuk menjangkau daya imajinasi nalar dan imajinasi berpikir mayoritas siswa antara lain guru mencoba untuk senantiasa melakukan improvisasi dalam proses belajar dan menyumbangkan pengorbanan waktu serta perhatian bagi siswa yang dikategorikan kurang berminat dalm belajar untuk memberikan dorongan untuk menumbuhkan semangat dan motivasi belajar pada siswa
2. Meminta dukungan moril dan materil serta kesabaran dari orang tua dalam mengajarkan belajar pada anak di rumah, karena “lingkungan sosial lebih banyak mempengaruhi kegiatan belajar ialah orang tua dan keluarga siswa itu sendiri, sifat-sifat orang tua, praktek pengelolaan keluarga, ketegangan keluarga, demografi keluarga (letak rumah), semuanya dapat memberikan dampak yang positif ataupunnegatif terhadap kegiatan belajar dan hasil yang dicapai oleh siswa. Contoh kebiasaan yang keliru seperti kelalaian orang tua dalam memonitor kegiatan anak dapat menimbulkan dampak yang lebih buruk lagi. Dalam hal ini, bukan saja anak tak mau belajar melainkan juga cenderung berprilaku menyimpang, terutama berprilaku yang berat seperti antisosial” (Patterson & Loeber, 1994 : 28)
3. kurangnya rangsangan pada anak untuk mengembangkan minat belajarnya, berhubungan erat dengan kejenuhan belajar yang dialami oleh siswa, kejenuhan belajar dapat melanda seorang siswa apabila ia telah kehilangan motVasi dan juga kehilangan konsolodasi salah satu tingkat keterampilan tertentu sampai kepada tingkat keterampilan selanjutnya (Chaplin, 1972 : 20). Selain itu, kejenuhan juga dapat terjadi karena proses belajar siswa telah sampai pada batas kemampuan jasmaniahnya karena bosan (boring) dan keletihan (fatque), namun penyebab yang paling umum adalah keletihan yang melanda siswa, karena keletihan menjadi bosan pada akhirnya menurunkan minat belajarnya kepada pelajarana tersebut. Keletihan siswa dapat dikategorikan menjadi tiga macam, yakni : 1) keletihan indera siswa; 2) keletihan fisik siswa; 3) keletihan mental siswa (Crooss, 1994 : 56). Keletihan fisik dan keletihan indera, dalam hal ini mata dan telinga pada umumnya dapat dikurangi atu dihilangkan lebih mudah setelah siswa beristirahat cukup terutama tidur dan mengkonsumsi makanan dan minuman yang cukup bergizi. Sebaliknya keletihan mental tak dapat diatasi dengan cara-cara yang sedrhana, itulah sebabnya, keletihan mental dipandang sebagai faktor utama penyebab kejenuhan belajar anak yang berimbas kepada kurangnya minat anak dalam mengikuti pelajaran tersebut. Apakah yang menyebabkan siswa mengalami keletihan mental? Sedikitnya ada Lima faktor penyebab siswa mengalami keletihan mental yaitu :
a. karena kecemasan siswa terhadap dampak negatif yang ditimbulkan oleh keletihan itu sendiri
b. karena kecemasan siswa terhadap standar atau patokan keberhasilan materi tertentu yang dianggap terlalu tinggi terutama ketika siswa tersebut sedang merasa bosan mempelajari materi-materi tersebut.
c. Karena siswa mempercayai konsep kinerja akademik yang optimum, sedangkan dia menilai belajarnya sendiri hanya berdasarkan ketentuan yang dia buat sendiri (self-imposed)
Selanjutnya, keletihan mental yang menyebabkan munculnya kejenuhan belajar yang menurunkan minat belajar itu lazimnya dapat diatasi dengan menggunakan kiat-kiat anatara lain :
1. Melakukan istirahat dan mengkonsumsi makanan dan minuman yang bergizi dengan takaran yang cukup.
2. Penjadwalan kembali jam-jam dari hari-hari belajar yang dianggap lebih memungkinkan siswa belajar lebih giat lagi.
3. Penataan kembali lingkungan belajar siswa yang meliputi perubahan posisi meja tulis, lemari, rak buku, alat-alat perlengkapan belajar dan sebagainya sampai memungkinkan siswa merasa nyaman dan menyenangkan untuk belajar.
4. Memberikan motivasi dan stimulasi baru agar siswa merasa terdorong untuk belajar lebih giat lagi daripada sebelumnya.
5. Siswa harus berbuat nyata (tidak menyerah atau tinggal diam) dengan cara mencoba belajar dan belajar lagi.
Seorang guru harus memiliki strategi atau kiat-kiat tertentu dalam melaksanakan pendekatan serta metode-metode belajar termasuk faktor-faktor yang turut menentukan tingkat efisiensi dan keberhasilan belajar siswa. Sering terjadi seorang siswa yang memiliki kemampuan ranah cipta (kognitif) yang lebih tinggi dari teman-temannya ternyata hanya mampu mencapai hasil yang sama dengan yang dicapai teman-temannya itu, bahkan bukan hal yang mustahil jika suatu saat siswa yang cerdas akan mengalami kemorosotan prestasi sampai ke titik yang lebih rendah daripada prestasi temannya yang berkapasitas diatas rata-rata.
Sebaliknya, seorang siswa yang sebenarnya hanya memiliki kemampuan ranah cipta rata-rata atau sedang dapat mencapai puncak prestasi sampai batas optimal kemampuannya yang memuaskan lantaran menggunakan pendekatan belajar yang efisien dan efektif. Konsekuensi positifnya adalah harga diri siswa tersebut melonjak hingga setara dengan teman-temannya yang beberapa orang diantaranya mungkin berkapasitas kognitif lebih tinggi.